![]() |
KAGALASTAR
Keluarga
Angkatan Tiga Belas Sejagat Tekad Angan Diraih
Kami
ini anak-anak mimpi ..
Melangkah
bersama dalam sebuah acuan yang pasti…
Berbeda
harapan, beda asa namun satu tujuan..
Kisah
64 anak yang mencoba mengarungi lautan mimpi sedalam samudra..
Menyelami
dunia penuh tantangan dan rintangan yang beragam...
Satu
tekad satu Asa dan satu Harapan..
Demi
negri kami tercinta, Indonesia
Nusa
dan Bangsa..
“Tak
ada siapapun diantara kita yang dapat melupakan segala kenangan dan duka yang
telah kita lalui..banyak cerita yang tak akan bisa ku tenggelamkan begitu saja
dalam memori ini..hanya secercah kisah yang dapat membuatku selalu mengenang
kalian.”.
KAGALASTAR
Mohammad
Oka Arizona
Part Of Kagalastar
Kata Pengantar
Assalamualaikum
wr.wb
Ucapan terimakasihku yang
sebesar-besarnya untuk para pengejar mimpi yang Gila, Tolol dan konyol itu.
Ucapan terimakasihku kepada kedua orang tuaku yang telah dengan tidak sengaja
mempertemukanku dengan 64 makhluk dengan tekad yang selalu membara dalam meraih
mimpi. Ucapan terimakasihku kepada para peraih angan yang telah menmotivasiku
dalam perjalanan singkat 1000 hari itu.
Dengan segala tantangan yang terkadang jujur saja membuatku tak betah dan ingin
cepat keluar dan pergi dari penjara ancaman
itu. Namun, di balik semua itu, kalianlah yang telah membangun kembali semangat
yang telah luntur sia-sia itu walaupun terkadang beberapa patah kata yang
terlampiaskan adalah sebuah arti yang menyakitkan.
Amarah, Cinta, Harapan, Mimpi dan
Tekad yang menyatukan kita menjadi sebuah keluarga dengan anggota 64 anggota
keluarga. Duka yang selalu mengiringi setiap langkah 1000 hari itu. Orang tua,
yang selalu mendoakan kita dimanapun kita berada. Serta cacian yang selalu mendramatisir
keadaan dalam cerita ini hanyalah sesuai kenyataan belaka dan semata-mata hanya
ingin selalu merasa dekat dengan kalian, Para peraih mimpi.
Ada kalanya dalam perjuangan kita
menemukan sosok cinta sejati namun masih banyak sekali halangan untuk mendapatkannya.
Dalam buku ini terkisahkan perjuangan 64 anak yang siap menjadi pemimpin negri
dengan semangat, tekad dan harapan yang benar-benar ada dan konkret. 64 anak yang siap dan berani menerima segala
resiko demi orang tua, nusa dan bangsa. 64 anak yang menjadi harapan bumi pertiwi kita,
Indonesia.
Wassalamualaikum
wr.wb
Perpisahan
SMP telah
berakhir. Saatnya melangkah menuju dunia baru, SMA/sekolah menengah atas dan
siap berjuang demi sebuah angan-angan yang masih jauh untuk diraih, Duta Besar
Pariwisata. Namaku Mohammad Oka Arizona, biasa dipanggil Oka. Smp telah kulalui
dengan sedikit sekali kenangan yang tersimpan dalam memori ini. Hanya beberapa
saja yang masih tersangkut dalam saraf otak ini. Ya, seperti anak seorang
kepala desa dengan rambut ikal itu, yang selalu mengisi waktuku saat masih SMP.
Atau seorang wanita berparas gendut, dengan rambut bergelombang yang juga merupakan
teman seperjuangan dari SD. Aku telah selesai menyelesaikan masa SMP ku dengan
nilai yang cukup memuaskan dan kenangan yang sangat tidak memuaskan. Tidak ada
yang patut disimpan dari kenangan-kenangan semasa SMP kecuali sekeompok anak
disebelah rumah yang selalu ada dikala suasana sepi ataupun ramai. Tingkah
mereka seolah-olah telah menjadi pengisi hari-hariku dirumah, walaupun
sebenarnya masa SD dulu orangtuaku sempat melarangku untuk bermain dengan
mereka karena pergaulan mereka yang terlalu bebas dan kata-kata dari mereka
yang terlalu frontal dan nyolot terhadap orang tua. Namun, diriku beranggapan
bahwa semua itu adalah sesuatu yang unik, bukan dari sisi melawan kepada orang
yang lebih tua, tetapi kekonyolan yang dibuat oleh mereka. Bahkan, karena
terlalu dekat, mereka juga memanggil ibuku dengan sebutan yang sama yaitu ibu.
Dan memanggil ayahku dengan sebutan Bak
(ayah). Aku telah menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri dan tak jarang
pula ibuku meminta bantuan kepada mereka.
***********************************************************
“nilaimu
berapa ji? “ aku menghampiri seorang anak berumur 14 tahun dengan perawakan
tinggi hitam dan berbibir tebal itu, seorang anak yang cukup konyol di kelas.
Semasa masih di kelas IX dulu, ia sering membuka mulutnya dan membuka
lebar-lebar matanya saat guru menjelaskan di depan. Entah apa yang
dipikirkannya.
“ah,
tidak terlalu besar dan syukurlah lulus “
“Nilaimu?
“ aji melanjutkan pembicaraannya.
“ah,
tidak.. nilaiku belum keluar dan kuharap aku bisa meraih nilai bagus di
pelajaran Matematika” aku sedikit tertunduk dan khawatir akan nilai hasil Ujian
itu.
“memangnya
ke..”
“ah,
Bak, “ aku memotong perkataan aji dan mengambil kertas yang ada di tangan
lelaki paruh baya berkumis itu. Tanganku
bergetar .
“tunggu
dulu, apakah hasilnya memuaskan?” tanyaku pada ayahku, dengan sedikit menaikkan alis sebelah kananku
dan kembali terfokus pada sehelai amplop yang masih tertutup rapat itu.
“Bak
ingatkan janji bak dulu? Taruhannya, bila aku berhasil mencapai nilai diatas 95
dalam mata pelajaran matematika, maka bak harus menepati janji yang kemarin”
aku tersenyum, begitu juga ayahku yang membalas dengan senyum bahagia.
Perlahan, amplop putih bertuliskan namaku itu kubuka dan seperti membaca
ensiklopedia, aku mencari namaku dengan nomor absen 23 dan tertulis hasil Ujian
Nasional SMP yang telah kulalui sekitar satu setengah bulan yang lalu.
“Nilai
matematikaku!berhasil! Android kau akan menjadi milikku! “ sontak aku berteriak
melihat hasil yang pertama kali kulihat, nilai matematika dengan angka 97,5 dan
ayahku hanya bisa tersenyum bahagia. Dan oh iya akulupa, besok adalah perayaan
pernikahan kakak permpuan tertuaku. Dan rumahku sangat sibuk hari itu, penuh
akan sanak saudara yang berkunjung untuk membantu memasak dan sebagainya untuk
pesta. Aku tak terlalu memperdulikan itu, aku lebih memilih mengganti pakaian
setelah sampai dirumah dan keluar berlari menuju sebuah rumah kecil yang sudah
beberapa tahun ini menjadi tempat bermain dan berkumpul kami, Ngeradok.
Aku
terus berlari dengan menggenggam secarik kertas yang ada ditanganku saat itu.
Sesampaiku disana, ada beberapa sahabat yang juga merupakan teman terbaikku,
ada Imam, seorang anak dengan gigi sedikit maju kedepan dan berusaha menjadi
tampan layaknya artis korea. Ada Gilang, seorang playboy mentah cap yakult , di handphonenya banyak sekali nomor
perempuan dan terbukti ia memiliki pacar sana-sini. Aku sempat berfikir begini
“ Apakah para wanita yang menjadi pacar gilang tidak buta? Atau katarak?” ya, Gilang memang memiliki fisik yang cukup
manta. Tubuh atletis, wajah sedikit dewasa namun tua dan yang terakhir adalah
konyol dan sedikit miring alias gila. Mengapa demikian? Itu sangat terbukti
selama aku menjadi temannya, ia sama sekali tidak takut yang namanya hantu dan
pernah suatu kejadian saat memasuki rumah hantu yang ada dikotaku, ia malah
yang menakut-nakuti hantu samaran itu. Dan anehnya, hantu samara di rumah hantu
tersebut yang terkejut akan kedatangan Gilang sebagai pengunjung rumah hantu
itu, bukan hantunya. Aneh!
Yang
ketiga, ada Juanda. Lelaki gemuk dengan mata besar dan pandai bermain gitar.
Tak hanya gitar, ia juga mampu dan apik sekali dalam bermain Dambus, salah satu
alat music tradisional dari Bangka Belitung yang katanya sangat susah dimainkan
jika belum terlatih dan professional. Jadi, secara tak langsung, ia adalah
orang yang professional dalam hal music.
Aku
memasuki rumah kecil itu, tersenyum melihat ketiga umat aneh itu. Mereka diam,
sama seperti biasanya, menatapku tajam dan kemudian tertawa. Entah apa yang di
tertawakannya. Mereka bilang bahwa ketika melihat hidungku, maka mereka akan
teringat sebuah kue khas Bangka Belitung, Kue Rintak. Maka itu mereka tertawa
saat melihatku.
“Hoy… kalian lupa hari ini hari apa? “ aku berusaha mengingatkan mereka akan hari kelulusanku ini.
“Hoy… kalian lupa hari ini hari apa? “ aku berusaha mengingatkan mereka akan hari kelulusanku ini.
“
Hari ini adalah hari paling membosankan! “ jawab Juanda dan langsung mengambil
gitar yang ada di sebelahnya.
“Hari
ini Sabtu” imam berdengung, dengan tonjolan giginya yang tidak merata.
Sementara Gilang, masih terus terpaku dengan layar handphone genggam miliknya.
“Lihat!!!
“ aku memberikan secarik kertas itu pada Imam dan taka da respon, kemudian
melanjutkan memberikan kepada Gilang.
“Selamat!
“ ucap Gilang datar dan kembali melihat layar handphonenya.” Lalu, kamu mau
melanjutkan kesekolah mana?” Juanda mulai angkat bicara dan kemudian
melanjutkan permainan gitar melodynya itu.
“Entahlah,
yang terpenting adalah.. kalian harus menandatangani baju ini sebanyak yang
kalian suka! Karena aku tidak mendapat tanda tangan dari siapapun di baju ini!
Mengerti!” aku memberikan baju Pramukaku
dan sebuah spidol warna hitam kepada mereka bertiga dan mereka mulai
menandatangani sesuai keinginan mereka.
Mereka
mulai mencorat-coret baju itu dengan motif apa yang ada dibenak mereka. Imam
menggambar Ikan dan naga, Juanda menandatangani sebesar yang ia mau dan Gilang
membuat motif hati bersayap. Dasar playboy cap yakult.
Perpisahan
“
Aku di terima di SMA unggulan itu!” aku bergumam diatas kuburan cina yang cukup
besar itu, menoleh kearah Gilang, Imam, Juanda dan beberapa teman yang lainnya.
Aku menatap kearah depan sana, terpampang keindahan bukit merbaung dan bukit
Pau yang benar-benar terlihat jelas dari penglihatanku. Ditambah sedikit kabut
yang menutupinya yang menambah pencitraan indah akan apa yang kulihat saat ini.
“jadi,
kau yakin akan masuk asrama?” aku diam. Membisu. Menunduk kemudian merenungi
sebuah kata yang benar-benar membuatku sedikit takut. Takut akan jauh dari
orang-orang terdekat ini yang selalu membuatku tersenyum setiap hari. Asrama!
Tidak, jika aku membiarkan beasiswa itu, maka sama saja dengan menyia-nyiakan
rezeki yang telah di datangkan dari tuhan. Dan lagipula, sekolah itu gratis
walaupun harus di karantina dalam asrama.
Aku mendesis berfikir apa yang harus aku katakana. Masih diam kemudian
mencoba untuk bicara.
“Bbu..bukan
begitu, tta..tapi! tapi dengan ini juga, aku dapat meringankan beban orang
tuaku. Gratis.!” Dengan mulut terbata-bata aku menjawabnya. Juanda menyela “
Bukannya cita-citamu menjadi presenter atau pemandu wisata atau Duta wisata?
Kenapa tidak masuk SMK N 3 perhotelan saja?” . aku juga sempat berfikir hendak
masuk dan menjadi siswa di SMK tersebut tetapi, ibuku tidak mengizinkan dan aku
mencoba seleksi masuk kelas unggulan tersebut dan berhasil terpilih sebagai
siswa baru di Kelas tersebut.
Semua
diam, matahari sudah mulai malu dan tenggelam, aku dan yang lainnya kembali
kerumah dengan pikiran yang penuh pertimbangan. Apa yang dikatakan temanku itu benar, jika aku masuk asrama dan
secara otomatis akan berpisah dari mereka sedangkan bila aku membuangnya, sama
saja dengan menyia-nyiakan sebuah beasiswa yang telah susah payah aku lalui
dengan tes psikotes, administrasi dan tes kesehatan beberapa minggu yang
lalu. Satu minggu telah berlalu dan aku
telah berkemas untuk berangkat menuju kehidupan baruku, sebuah asrama yang sama
sekali masih asing di dalam pikiranku, karena aku hanya mengira bahwa asrama yang akan kutempati nantinya
adalah asrama seperti yang ada dalam film dream high. Sudah satu minggu ini
taka da kabardari beberap makhluk konyol itu. Sepi. Karena kurasa ini adalah
malam terakhirku di kota Pangkalpinang, maka aku memutuskan untuk berpamitan
kepada mereka untuk pergi besok menuju asrama, sekaligus mengajak mereka untuk
mengantarkanku menuju kehidupan baruku.
Tujuan
utama adalah rumah bercorak hijau dengan lukisan desa konohagakure di dalamnya.
Sebuah tempat berkumpul dan bercerita antara kami, Ngeradok. Sepi, hanya ada Gilang yang sedang menggambar
gambar tak jelas pada kertas yang sudah terlihat koyak. Gambar yang terlihat
seperti perawakan seorang lelaki botak dengan style anak punk tetapi menggunakan
rok. Entahlah, yang jelas inti dari gambarnya seperti itu.
“Yang
lain mana mang? “ aku menyenggol bahunya dan ia terus focus pada hasil karyanya
yang absurd itu.
“
satu minggu ini kalian jarang sekali kerumahku, apa karena aku akan pindah ke
asrama? Kalau begitu, sebagai tanda
perpisahan, maukah kamu ikut mengantarkanku ke asrama baruku esok pagi? “ aku
memohon padanya namun ia menggeleng. Sebuah jawaban pasti yang tak bisa di
pungkiri. Aku benar mengenalnya, ia adalah lelaki yang konsisten, teguh akan
pendiriannya dan bisa dibilang nekad. Apabila ia mengatakan ya, maka ya. Dan
jika ia mengatakan tidak, maka itu tidak. Pernah beberapa tahun lalu, saat kami
masih bermain dengan sepeda tanpa rem dan saat itu kukira ia hanya bercanda. Ia
mengajak aku, imam dan Ilman pergi bersepeda ke tempat pemandian airterjun
mangkol dan kami menjawab ya, dan ternyata ia serius. Dengan bekal uang 2 ribu
rupiah dan rantai sepeda yang telah putus beberapa kali, kami terus melanjutkan
perjalanan dengan nekad sejauh kurang lebih 10 km ditambah 3 km menuju pusat air
terjun dengan bersepeda.
“Kenapa?
“ aku merasa sedih melihat sikapnya yang jauh berubah.
“
Besok, Modzilla itu mengajakku pulang ke Toboali, rumah nenekku dan aku tidak
bisa mengantarkanmu pergi. Maaf! “
Modzilla? Ya, itu adalah panggilan untuk ibu tirinya yang cukup ganas
itu, ia memanggilnya modzilla karena salah seorang perempuan teman kami bernama
Mella, pernah bermimpi tentang ibu tiri Gilang yang berubah menjadi Modzilla
dan menghancurkan kota sampai binasa.
Aku masih lekat memandangnya dengan penuh rasa kecewa. Aku berlalu,
kembali berjalan menuju rumah Imam dan jawaban yang sama aku dapatkan, sebuah
tolakan dan gelengan kepala yang masih meruntuhkan hati ini dengan kekecewaan.
Ia juga tak dapat ikut serta karena ia akan ikut kakaknya bekerja. Ya, imam
memang sudah tak bersekolah lagi, hal itu karena ia pernah berhenti sekolah
selama satu tahun dikarenakan merantau
ke tanah Jawa bersama ayahnya dan terpaksa ia putus sekolah saat ini.
Aku pulang kerumah. Dengan hati yang
sedikit gelisah dan kecewa. Sepi. Tanpa kehadiran makhluk-makhluk konyol itu.
Kurasa aku akan merindukan sosok orang yang selalu mentertawai seorang ibu-ibu
botak di gang masjid itu dan orang-orang yang selalu mengajakku bermain di
perkuburan cina belakang rumah serta orang-orang nekad yang selalu mengajakku
berpetualang. Oh ya, untuk masuk asrama
tersebut, laki-laki harus botak dan aku sangat tidak menyukai itu, jadi pada
malam harinya, aku memangkas rambutku dengan tipis di tempat pemangkasan
rambut. Aku melihat sosok tinggi berkulit hitam berambut panjang yang taka
sing. Ya, Resma. Seorang perempuan tomboy yang rumahnya selalu dijadikan tujuan
nongkrong malah hari. Ia menoleh padaku
dan menghampiriku.
“Jadi,
besok jadi ke asrama?” ia melengkungkan bibirnya dan raut wajahnya terlihat
turun. Aku mengangguk. “ Semoga betah di asrama ya!” kata terakhir darinya bulan ini dan kemudian
ia berlalu dengan sepeda motornya yang berwarna biru. Cobaan apa ini. Sebegitu
peliknya perasaan ini ketika harus pergi meninggalkan orang-orang yang sangat
dekat dengan kita bahkan yang kita kasihi serta sayangi?.
Sabtu,
6 juli 2012. Pagi ini semua sudah bersiap. Aku dengan baju putih biruku sudah
ku kenakan. Baju putih abu-abu belum dikenakan karena tentu saja aku belum
resmi menjadi anak SMA karena mos belum
berlangsung. Semua peralatan telah siap. Peralatan mandi, baju, cuci, peralatan
makan dan sebagainya selesai. Done!. Sekitar empat puluh lima menit, aku tiba
di tempat yang akan menjadi kehidupan baruku ini. Ramai, banyak orang yang
memakai jaket berwarna hitam bertuliskan Kusmansa di belakangnya serta spanduk
yang bertuliskan “Selamat dating siswa-siswi baru kelas Unggulan tahun
2012/2013. Disini kita bersosialisasi dan berprestasi” ikut meramaikan suasana
itu. Banyak perempuan asing yang ku lihat
dan hanya beberapa yang ku kenal. Nur safira, Hana Regina Kinanti,
Wahyudinianingsih dan Betavia. Hanya itu perempuan yang ku kenal. Sementara
yang lainnya, jangankan mengetahui namanya, wajahnya saja belum pernah kulihat.
Pukul
satu siang, setelah semua peraalatan beres dan rapi di asrama, orangtua
dipersilahkan pulang kerumah dan kami, anak-anak baru penghuni asrama akan
dikarantina selama 3 bulan dan tidak boleh bertemu dengan orangtua. Asrama baru
ini terdiri dari sebelas orang anak laki-laki yang berasal dari berbagai daerah
di provinsi ini. Semuanya masih kaku, malu dan sungkan untuk berkenalan. Begitu
juga dengan aku. Tapi, bila taka da yang memulai maka semuanya akan terus
berlanjut seperti ini. Diam. Seorang
anak laki-laki kurus ,tinggi dengan rambut berponi ala boyband korea itu
menghampiri tiap-tiap siswa baru itu. Mengulurkan tangannya dengan senyumannya
yang seperti tikus tapi rapi. “Rizky Nugraha” tuturnya sambil mengulurkan
tangannya. Wajahnya masih asing di ingatanku. Aku menuruni kasur bertingkat itu
dan ikut berkenalan. Aku masih malu, jadi memilih diam. Aku menuju keran air di
depan asrama dan menyalakannya. Seorang laki-laki berhidung mancung itu
menghampiri dari belakang dan mengulurkan tangannya. Ya, aku mengerti maksud
ini, perkenalan awal . “Arifin “ sebutnya dan aku membalas dengan menyebutkan
namaku. Kemudian semuanya saling berkenalan dan wajah-wajah itu tak sanggup aku
hafal dengan cepat.
Mereka
adalah putra putra terbaik pilihan seprovinsi yang telah terseleksi dari
berbagai macam tes. Watak, sifat dan
fisiknya tentulah berbeda. Ada Djimmy yang memiliki tinggi diluar dugaan untuk
anak kelas X yang baru masuk, sekitar 178 cm. Ada Rizal yang memiliki kebalikan
dari Djimmy. Yoga, anak rantau berkacamata yang ramah, ada Yanuar, anak yang
terlihat sok asik dengan music raege kebanggaannya dan berbagai macam lainnya.
Hari pertama ini kami isi dengan kumpul bersama untuk memperat tali
persaudaraan kami untuk menempuh hidup bersama selama 1000 hari kedepan.
Hari
Pertama Di Asrama
Semua
siswa laki-laki di kumpulkan di Barak B. ya, Asrama laki-laki untuk kelas X
terdiri dari dua ruangan, yang pertama Barak A dan yang kedua Barak B.
anak-anak barak B lebih terlihat asing bagiku dibandingkan anak-anak di barak
A. secara, aku tidak sekamar dengan mereka jadi kurang sosialisasi. Selain
itu,ini adalah hari pertama aku berada di asrama dan bukan suatu hal yang
mungkin untuk menghafal setiap wajah yang berbeda dan aneh itu dalam
benakku. Kami dikumpulkan di ruangan
tersebut, pengawas itu datang bersama tiga orang kakak kelas yang lebih tinggi
tingkatannya dibandingkan kami 21 anak polos ini.
“Kumpulkan
Hp kalian!” perintah dari pengawas itu dan dengan cepat kami mengumpulkannya.
Razia pertama selesai dan its time to Botak!. “Pencukur rambutnya sudah datang,
jadi silahkan gunting rambut kalian botak dan bayar sendiri “ hatiku berdebar,
apakah rambutku yang indah ini harus di porting botak? Yatuhan, cobaan apa lagi
ini. Semuanya mulai berbaris, membuka baju satu persatu dan mulai memotong rambut
dengan si pencukur rambut. “lebih baik duluan dek, nanti jika terakhir-terakhir
bisa bisa mati lampu dan rambutmu hanya dipotong setengah, akan lebih malu
dek!” salah seorang kakak bergumam di sebelahku. Kakak yang dengan gayanya yang
sok tampan itu, sepertinya ia bukan ras melayu. Tapi China. Bagaimanapun kakak itu bergumam dan apapun
yang ia katakana ya tetap saja aku tak ingin rambutku botak. Bisa-bisa kepalaku
masuk angi bila taka da rambut yang melindunginya, kan aku sendiri yang bakalan
repot bila kepalaku masuk angin.
“Selesai!
Lanjut! “ satu orang telah selesai di transformasikan menjadi makhluk botak.
Yang lain masih diam, taka da niat untuk berkenalan karena kurasa bukan waktu
yang tepat untuk berkenalan saat seperti itu. Selain itu, aku juga tak mau
kakak memandang kami rebut dan sebagainya karena bisa-bisa kami dihukum karena
asrama ini terkenal akan ketatnya hukuman yang di berlakukan. “Ya tuhan, apakah rambutku masih harus di
potong? Padahal aku sudah memotong ponilku ini!” anak boyband lagi-lagi berggumam
tak jelas dan masih membicarakan poni boybandnya itu. Ampun!
Beberapa
anak selesai, aku mengambil posisi dan duduk di kursi. Menuruti segala perintah
pencukur rambut. Nunduk! Aku menunduk. Tegak, aku tegak dan untungnya si
pencukur rambut tidak menyuruhku split atau rolling di depannya. Perlahan
angina-angin segar itu mulai terasa menggerogoti kepalaku yang perlahan
membotak dan “Selesai” ujar si Pencukur Rambut dan aku sangat tidak terbiasa
dengan kepala licin ini. Sangat aneh .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar