Sabtu, 26 Oktober 2013

This Is Kagalastar!




KAGALASTAR
Keluarga Angkatan Tiga Belas Sejagat Tekad Angan Diraih
Kami ini anak-anak mimpi ..
Melangkah bersama dalam sebuah acuan yang pasti…
Berbeda harapan, beda asa namun satu tujuan..
Kisah 64 anak yang mencoba mengarungi lautan mimpi sedalam samudra..
Menyelami dunia penuh tantangan dan rintangan yang beragam...
Satu tekad satu Asa dan satu Harapan..
Demi negri kami tercinta, Indonesia
Nusa dan Bangsa..

“Tak ada siapapun diantara kita yang dapat melupakan segala kenangan dan duka yang telah kita lalui..banyak cerita yang tak akan bisa ku tenggelamkan begitu saja dalam memori ini..hanya secercah kisah yang dapat membuatku selalu mengenang kalian.”.
KAGALASTAR

                                                                                                Mohammad Oka Arizona

                                                                                                   Part Of  Kagalastar



Kata Pengantar
           
Assalamualaikum wr.wb
            Ucapan terimakasihku yang sebesar-besarnya untuk para pengejar mimpi yang Gila, Tolol dan konyol itu. Ucapan terimakasihku kepada kedua orang tuaku yang telah dengan tidak sengaja mempertemukanku dengan 64 makhluk dengan tekad yang selalu membara dalam meraih mimpi. Ucapan terimakasihku kepada para peraih angan yang telah menmotivasiku dalam perjalanan singkat  1000 hari itu. Dengan segala tantangan yang terkadang jujur saja membuatku tak betah dan ingin cepat keluar dan pergi dari penjara  ancaman itu. Namun, di balik semua itu, kalianlah yang telah membangun kembali semangat yang telah luntur sia-sia itu walaupun terkadang beberapa patah kata yang terlampiaskan adalah sebuah arti yang menyakitkan.
            Amarah, Cinta, Harapan, Mimpi dan Tekad yang menyatukan kita menjadi sebuah keluarga dengan anggota 64 anggota keluarga. Duka yang selalu mengiringi setiap langkah 1000 hari itu. Orang tua, yang selalu mendoakan kita dimanapun kita berada. Serta cacian yang selalu mendramatisir keadaan dalam cerita ini hanyalah sesuai kenyataan belaka dan semata-mata hanya ingin selalu merasa dekat dengan kalian, Para peraih mimpi.
            Ada kalanya dalam perjuangan kita menemukan sosok cinta sejati namun masih banyak sekali halangan untuk mendapatkannya. Dalam buku ini terkisahkan perjuangan 64 anak yang siap menjadi pemimpin negri dengan semangat, tekad dan harapan yang benar-benar ada dan konkret.  64 anak yang siap dan berani menerima segala resiko demi orang tua, nusa dan bangsa. 64 anak  yang menjadi harapan bumi pertiwi kita, Indonesia.
Wassalamualaikum wr.wb








Perpisahan
SMP telah berakhir. Saatnya melangkah menuju dunia baru, SMA/sekolah menengah atas dan siap berjuang demi sebuah angan-angan yang masih jauh untuk diraih, Duta Besar Pariwisata. Namaku Mohammad Oka Arizona, biasa dipanggil Oka. Smp telah kulalui dengan sedikit sekali kenangan yang tersimpan dalam memori ini. Hanya beberapa saja yang masih tersangkut dalam saraf otak ini. Ya, seperti anak seorang kepala desa dengan rambut ikal itu, yang selalu mengisi waktuku saat masih SMP. Atau seorang wanita berparas gendut, dengan rambut bergelombang yang juga merupakan teman seperjuangan dari SD. Aku telah selesai menyelesaikan masa SMP ku dengan nilai yang cukup memuaskan dan kenangan yang sangat tidak memuaskan. Tidak ada yang patut disimpan dari kenangan-kenangan semasa SMP kecuali sekeompok anak disebelah rumah yang selalu ada dikala suasana sepi ataupun ramai. Tingkah mereka seolah-olah telah menjadi pengisi hari-hariku dirumah, walaupun sebenarnya masa SD dulu orangtuaku sempat melarangku untuk bermain dengan mereka karena pergaulan mereka yang terlalu bebas dan kata-kata dari mereka yang terlalu frontal dan nyolot terhadap orang tua. Namun, diriku beranggapan bahwa semua itu adalah sesuatu yang unik, bukan dari sisi melawan kepada orang yang lebih tua, tetapi kekonyolan yang dibuat oleh mereka. Bahkan, karena terlalu dekat, mereka juga memanggil ibuku dengan sebutan yang sama yaitu ibu. Dan memanggil ayahku dengan sebutan Bak (ayah). Aku telah menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri dan tak jarang pula ibuku meminta bantuan kepada mereka.
                        ***********************************************************
“nilaimu berapa ji? “ aku menghampiri seorang anak berumur 14 tahun dengan perawakan tinggi hitam dan berbibir tebal itu, seorang anak yang cukup konyol di kelas. Semasa masih di kelas IX dulu, ia sering membuka mulutnya dan membuka lebar-lebar matanya saat guru menjelaskan di depan. Entah apa yang dipikirkannya.
“ah, tidak terlalu besar dan syukurlah lulus “
“Nilaimu? “ aji melanjutkan pembicaraannya.
“ah, tidak.. nilaiku belum keluar dan kuharap aku bisa meraih nilai bagus di pelajaran Matematika” aku sedikit tertunduk dan khawatir akan nilai hasil Ujian itu.
“memangnya ke..”
“ah, Bak, “ aku memotong perkataan aji dan mengambil kertas yang ada di tangan lelaki paruh baya berkumis itu.  Tanganku bergetar .
“tunggu dulu, apakah hasilnya memuaskan?” tanyaku pada ayahku,  dengan sedikit menaikkan alis sebelah kananku dan kembali terfokus pada sehelai amplop yang masih tertutup rapat itu.
“Bak ingatkan janji bak dulu? Taruhannya, bila aku berhasil mencapai nilai diatas 95 dalam mata pelajaran matematika, maka bak harus menepati janji yang kemarin” aku tersenyum, begitu juga ayahku yang membalas dengan senyum bahagia. Perlahan, amplop putih bertuliskan namaku itu kubuka dan seperti membaca ensiklopedia, aku mencari namaku dengan nomor absen 23 dan tertulis hasil Ujian Nasional SMP yang telah kulalui sekitar satu setengah bulan yang lalu.
“Nilai matematikaku!berhasil! Android kau akan menjadi milikku! “ sontak aku berteriak melihat hasil yang pertama kali kulihat, nilai matematika dengan angka 97,5 dan ayahku hanya bisa tersenyum bahagia. Dan oh iya akulupa, besok adalah perayaan pernikahan kakak permpuan tertuaku. Dan rumahku sangat sibuk hari itu, penuh akan sanak saudara yang berkunjung untuk membantu memasak dan sebagainya untuk pesta. Aku tak terlalu memperdulikan itu, aku lebih memilih mengganti pakaian setelah sampai dirumah dan keluar berlari menuju sebuah rumah kecil yang sudah beberapa tahun ini menjadi tempat bermain dan berkumpul kami, Ngeradok.
Aku terus berlari dengan menggenggam secarik kertas yang ada ditanganku saat itu. Sesampaiku disana, ada beberapa sahabat yang juga merupakan teman terbaikku, ada Imam, seorang anak dengan gigi sedikit maju kedepan dan berusaha menjadi tampan layaknya artis korea. Ada Gilang, seorang playboy mentah cap  yakult , di handphonenya banyak sekali nomor perempuan dan terbukti ia memiliki pacar sana-sini. Aku sempat berfikir begini “ Apakah para wanita yang menjadi pacar gilang tidak buta? Atau katarak?”  ya, Gilang memang memiliki fisik yang cukup manta. Tubuh atletis, wajah sedikit dewasa namun tua dan yang terakhir adalah konyol dan sedikit miring alias gila. Mengapa demikian? Itu sangat terbukti selama aku menjadi temannya, ia sama sekali tidak takut yang namanya hantu dan pernah suatu kejadian saat memasuki rumah hantu yang ada dikotaku, ia malah yang menakut-nakuti hantu samaran itu. Dan anehnya, hantu samara di rumah hantu tersebut yang terkejut akan kedatangan Gilang sebagai pengunjung rumah hantu itu, bukan hantunya. Aneh!
Yang ketiga, ada Juanda. Lelaki gemuk dengan mata besar dan pandai bermain gitar. Tak hanya gitar, ia juga mampu dan apik sekali dalam bermain Dambus, salah satu alat music tradisional dari Bangka Belitung yang katanya sangat susah dimainkan jika belum terlatih dan professional. Jadi, secara tak langsung, ia adalah orang yang professional dalam hal music.
Aku memasuki rumah kecil itu, tersenyum melihat ketiga umat aneh itu. Mereka diam, sama seperti biasanya, menatapku tajam dan kemudian tertawa. Entah apa yang di tertawakannya. Mereka bilang bahwa ketika melihat hidungku, maka mereka akan teringat sebuah kue khas Bangka Belitung, Kue Rintak. Maka itu mereka tertawa saat melihatku.
            “Hoy… kalian lupa hari ini hari apa? “ aku berusaha mengingatkan mereka akan hari kelulusanku ini.
“ Hari ini adalah hari paling membosankan! “ jawab Juanda dan langsung mengambil gitar yang ada di sebelahnya.
“Hari ini Sabtu” imam berdengung, dengan tonjolan giginya yang tidak merata. Sementara Gilang, masih terus terpaku dengan layar handphone genggam miliknya.
“Lihat!!! “ aku memberikan secarik kertas itu pada Imam dan taka da respon, kemudian melanjutkan memberikan kepada Gilang.
“Selamat! “ ucap Gilang datar dan kembali melihat layar handphonenya.” Lalu, kamu mau melanjutkan kesekolah mana?” Juanda mulai angkat bicara dan kemudian melanjutkan permainan gitar melodynya itu.
“Entahlah, yang terpenting adalah.. kalian harus menandatangani baju ini sebanyak yang kalian suka! Karena aku tidak mendapat tanda tangan dari siapapun di baju ini! Mengerti!” aku memberikan baju  Pramukaku dan sebuah spidol warna hitam kepada mereka bertiga dan mereka mulai menandatangani sesuai keinginan mereka.
Mereka mulai mencorat-coret baju itu dengan motif apa yang ada dibenak mereka. Imam menggambar Ikan dan naga, Juanda menandatangani sebesar yang ia mau dan Gilang membuat motif hati bersayap. Dasar playboy cap yakult.

Perpisahan
“ Aku di terima di SMA unggulan itu!” aku bergumam diatas kuburan cina yang cukup besar itu, menoleh kearah Gilang, Imam, Juanda dan beberapa teman yang lainnya. Aku menatap kearah depan sana, terpampang keindahan bukit merbaung dan bukit Pau yang benar-benar terlihat jelas dari penglihatanku. Ditambah sedikit kabut yang menutupinya yang menambah pencitraan indah akan apa yang kulihat saat ini.
“jadi, kau yakin akan masuk asrama?” aku diam. Membisu. Menunduk kemudian merenungi sebuah kata yang benar-benar membuatku sedikit takut. Takut akan jauh dari orang-orang terdekat ini yang selalu membuatku tersenyum setiap hari. Asrama! Tidak, jika aku membiarkan beasiswa itu, maka sama saja dengan menyia-nyiakan rezeki yang telah di datangkan dari tuhan. Dan lagipula, sekolah itu gratis walaupun harus di karantina dalam asrama.  Aku mendesis berfikir apa yang harus aku katakana. Masih diam kemudian mencoba untuk bicara.
“Bbu..bukan begitu, tta..tapi! tapi dengan ini juga, aku dapat meringankan beban orang tuaku. Gratis.!” Dengan mulut terbata-bata aku menjawabnya. Juanda menyela “ Bukannya cita-citamu menjadi presenter atau pemandu wisata atau Duta wisata? Kenapa tidak masuk SMK N 3 perhotelan saja?” . aku juga sempat berfikir hendak masuk dan menjadi siswa di SMK tersebut tetapi, ibuku tidak mengizinkan dan aku mencoba seleksi masuk kelas unggulan tersebut dan berhasil terpilih sebagai siswa baru di Kelas tersebut.
Semua diam, matahari sudah mulai malu dan tenggelam, aku dan yang lainnya kembali kerumah dengan pikiran yang penuh pertimbangan. Apa yang dikatakan  temanku itu benar, jika aku masuk asrama dan secara otomatis akan berpisah dari mereka sedangkan bila aku membuangnya, sama saja dengan menyia-nyiakan sebuah beasiswa yang telah susah payah aku lalui dengan tes psikotes, administrasi dan tes kesehatan beberapa minggu yang lalu.  Satu minggu telah berlalu dan aku telah berkemas untuk berangkat menuju kehidupan baruku, sebuah asrama yang sama sekali masih asing di dalam pikiranku, karena aku hanya mengira  bahwa asrama yang akan kutempati nantinya adalah asrama seperti yang ada dalam film dream high. Sudah satu minggu ini taka da kabardari beberap makhluk konyol itu. Sepi. Karena kurasa ini adalah malam terakhirku di kota Pangkalpinang, maka aku memutuskan untuk berpamitan kepada mereka untuk pergi besok menuju asrama, sekaligus mengajak mereka untuk mengantarkanku menuju kehidupan baruku.
Tujuan utama adalah rumah bercorak hijau dengan lukisan desa konohagakure di dalamnya. Sebuah tempat berkumpul dan bercerita antara kami, Ngeradok.  Sepi, hanya ada Gilang yang sedang menggambar gambar tak jelas pada kertas yang sudah terlihat koyak. Gambar yang terlihat seperti perawakan seorang lelaki botak dengan style anak punk tetapi menggunakan rok. Entahlah, yang jelas inti dari gambarnya seperti itu.
“Yang lain mana mang? “ aku menyenggol bahunya dan ia terus focus pada hasil karyanya yang absurd itu.
“ satu minggu ini kalian jarang sekali kerumahku, apa karena aku akan pindah ke asrama?  Kalau begitu, sebagai tanda perpisahan, maukah kamu ikut mengantarkanku ke asrama baruku esok pagi? “ aku memohon padanya namun ia menggeleng. Sebuah jawaban pasti yang tak bisa di pungkiri. Aku benar mengenalnya, ia adalah lelaki yang konsisten, teguh akan pendiriannya dan bisa dibilang nekad. Apabila ia mengatakan ya, maka ya. Dan jika ia mengatakan tidak, maka itu tidak. Pernah beberapa tahun lalu, saat kami masih bermain dengan sepeda tanpa rem dan saat itu kukira ia hanya bercanda. Ia mengajak aku, imam dan Ilman pergi bersepeda ke tempat pemandian airterjun mangkol dan kami menjawab ya, dan ternyata ia serius. Dengan bekal uang 2 ribu rupiah dan rantai sepeda yang telah putus beberapa kali, kami terus melanjutkan perjalanan dengan nekad sejauh kurang lebih 10 km ditambah 3 km menuju pusat air terjun dengan bersepeda.
“Kenapa? “ aku merasa sedih melihat sikapnya yang jauh berubah.
“ Besok, Modzilla itu mengajakku pulang ke Toboali, rumah nenekku dan aku tidak bisa mengantarkanmu pergi. Maaf! “  Modzilla? Ya, itu adalah panggilan untuk ibu tirinya yang cukup ganas itu, ia memanggilnya modzilla karena salah seorang perempuan teman kami bernama Mella, pernah bermimpi tentang ibu tiri Gilang yang berubah menjadi Modzilla dan menghancurkan kota sampai binasa.  Aku masih lekat memandangnya dengan penuh rasa kecewa. Aku berlalu, kembali berjalan menuju rumah Imam dan jawaban yang sama aku dapatkan, sebuah tolakan dan gelengan kepala yang masih meruntuhkan hati ini dengan kekecewaan. Ia juga tak dapat ikut serta karena ia akan ikut kakaknya bekerja. Ya, imam memang sudah tak bersekolah lagi, hal itu karena ia pernah berhenti sekolah selama satu tahun dikarenakan  merantau ke tanah Jawa bersama ayahnya dan terpaksa ia putus sekolah saat ini.
            Aku pulang kerumah. Dengan hati yang sedikit gelisah dan kecewa. Sepi. Tanpa kehadiran makhluk-makhluk konyol itu. Kurasa aku akan merindukan sosok orang yang selalu mentertawai seorang ibu-ibu botak di gang masjid itu dan orang-orang yang selalu mengajakku bermain di perkuburan cina belakang rumah serta orang-orang nekad yang selalu mengajakku berpetualang.  Oh ya, untuk masuk asrama tersebut, laki-laki harus botak dan aku sangat tidak menyukai itu, jadi pada malam harinya, aku memangkas rambutku dengan tipis di tempat pemangkasan rambut. Aku melihat sosok tinggi berkulit hitam berambut panjang yang taka sing. Ya, Resma. Seorang perempuan tomboy yang rumahnya selalu dijadikan tujuan nongkrong malah hari.  Ia menoleh padaku dan menghampiriku.
“Jadi, besok jadi ke asrama?” ia melengkungkan bibirnya dan raut wajahnya terlihat turun. Aku mengangguk. “ Semoga betah di asrama ya!”  kata terakhir darinya bulan ini dan kemudian ia berlalu dengan sepeda motornya yang berwarna biru. Cobaan apa ini. Sebegitu peliknya perasaan ini ketika harus pergi meninggalkan orang-orang yang sangat dekat dengan kita bahkan yang kita kasihi serta sayangi?.
Sabtu, 6 juli 2012. Pagi ini semua sudah bersiap. Aku dengan baju putih biruku sudah ku kenakan. Baju putih abu-abu belum dikenakan karena tentu saja aku belum resmi menjadi anak SMA  karena mos belum berlangsung. Semua peralatan telah siap. Peralatan mandi, baju, cuci, peralatan makan dan sebagainya selesai. Done!. Sekitar empat puluh lima menit, aku tiba di tempat yang akan menjadi kehidupan baruku ini. Ramai, banyak orang yang memakai jaket berwarna hitam bertuliskan Kusmansa di belakangnya serta spanduk yang bertuliskan “Selamat dating siswa-siswi baru kelas Unggulan tahun 2012/2013. Disini kita bersosialisasi dan berprestasi” ikut meramaikan suasana itu.  Banyak perempuan asing yang ku lihat dan hanya beberapa yang ku kenal. Nur safira, Hana Regina Kinanti, Wahyudinianingsih dan Betavia. Hanya itu perempuan yang ku kenal. Sementara yang lainnya, jangankan mengetahui namanya, wajahnya saja belum pernah kulihat.
Pukul satu siang, setelah semua peraalatan beres dan rapi di asrama, orangtua dipersilahkan pulang kerumah dan kami, anak-anak baru penghuni asrama akan dikarantina selama 3 bulan dan tidak boleh bertemu dengan orangtua. Asrama baru ini terdiri dari sebelas orang anak laki-laki yang berasal dari berbagai daerah di provinsi ini. Semuanya masih kaku, malu dan sungkan untuk berkenalan. Begitu juga dengan aku. Tapi, bila taka da yang memulai maka semuanya akan terus berlanjut seperti ini. Diam.  Seorang anak laki-laki kurus ,tinggi dengan rambut berponi ala boyband korea itu menghampiri tiap-tiap siswa baru itu. Mengulurkan tangannya dengan senyumannya yang seperti tikus tapi rapi. “Rizky Nugraha” tuturnya sambil mengulurkan tangannya. Wajahnya masih asing di ingatanku. Aku menuruni kasur bertingkat itu dan ikut berkenalan. Aku masih malu, jadi memilih diam. Aku menuju keran air di depan asrama dan menyalakannya. Seorang laki-laki berhidung mancung itu menghampiri dari belakang dan mengulurkan tangannya. Ya, aku mengerti maksud ini, perkenalan awal . “Arifin “ sebutnya dan aku membalas dengan menyebutkan namaku. Kemudian semuanya saling berkenalan dan wajah-wajah itu tak sanggup aku hafal dengan cepat.
Mereka adalah putra putra terbaik pilihan seprovinsi yang telah terseleksi dari berbagai macam tes.  Watak, sifat dan fisiknya tentulah berbeda. Ada Djimmy yang memiliki tinggi diluar dugaan untuk anak kelas X yang baru masuk, sekitar 178 cm. Ada Rizal yang memiliki kebalikan dari Djimmy. Yoga, anak rantau berkacamata yang ramah, ada Yanuar, anak yang terlihat sok asik dengan music raege kebanggaannya dan berbagai macam lainnya. Hari pertama ini kami isi dengan kumpul bersama untuk memperat tali persaudaraan kami untuk menempuh hidup bersama selama 1000 hari kedepan.

Hari Pertama Di Asrama
Semua siswa laki-laki di kumpulkan di Barak B. ya, Asrama laki-laki untuk kelas X terdiri dari dua ruangan, yang pertama Barak A dan yang kedua Barak B. anak-anak barak B lebih terlihat asing bagiku dibandingkan anak-anak di barak A. secara, aku tidak sekamar dengan mereka jadi kurang sosialisasi. Selain itu,ini adalah hari pertama aku berada di asrama dan bukan suatu hal yang mungkin untuk menghafal setiap wajah yang berbeda dan aneh itu dalam benakku.  Kami dikumpulkan di ruangan tersebut, pengawas itu datang bersama tiga orang kakak kelas yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan kami 21 anak polos ini.
“Kumpulkan Hp kalian!” perintah dari pengawas itu dan dengan cepat kami mengumpulkannya. Razia pertama selesai dan its time to Botak!. “Pencukur rambutnya sudah datang, jadi silahkan gunting rambut kalian botak dan bayar sendiri “ hatiku berdebar, apakah rambutku yang indah ini harus di porting botak? Yatuhan, cobaan apa lagi ini. Semuanya mulai berbaris, membuka baju satu persatu dan mulai memotong rambut dengan si pencukur rambut. “lebih baik duluan dek, nanti jika terakhir-terakhir bisa bisa mati lampu dan rambutmu hanya dipotong setengah, akan lebih malu dek!” salah seorang kakak bergumam di sebelahku. Kakak yang dengan gayanya yang sok tampan itu, sepertinya ia bukan ras melayu. Tapi China.  Bagaimanapun kakak itu bergumam dan apapun yang ia katakana ya tetap saja aku tak ingin rambutku botak. Bisa-bisa kepalaku masuk angi bila taka da rambut yang melindunginya, kan aku sendiri yang bakalan repot bila kepalaku masuk angin.
“Selesai! Lanjut! “ satu orang telah selesai di transformasikan menjadi makhluk botak. Yang lain masih diam, taka da niat untuk berkenalan karena kurasa bukan waktu yang tepat untuk berkenalan saat seperti itu. Selain itu, aku juga tak mau kakak memandang kami rebut dan sebagainya karena bisa-bisa kami dihukum karena asrama ini terkenal akan ketatnya hukuman yang di berlakukan.  “Ya tuhan, apakah rambutku masih harus di potong? Padahal aku sudah memotong ponilku ini!” anak boyband lagi-lagi berggumam tak jelas dan masih membicarakan poni boybandnya itu. Ampun!
Beberapa anak selesai, aku mengambil posisi dan duduk di kursi. Menuruti segala perintah pencukur rambut. Nunduk! Aku menunduk. Tegak, aku tegak dan untungnya si pencukur rambut tidak menyuruhku split atau rolling di depannya. Perlahan angina-angin segar itu mulai terasa menggerogoti kepalaku yang perlahan membotak dan “Selesai” ujar si Pencukur Rambut dan aku sangat tidak terbiasa dengan kepala licin ini. Sangat aneh .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar